Like Monalisa

Posted: April 7, 2009 in cerita yang aneh

Jujur, tanpa rekayasa, tanpa muslihat, dan tanpa paksaan…

Seorang bapak (kebetulan punya hobi melukis), bilang kalo aku…

Seperti Monalisa…

Hiyaaaaa, *jingkrak-jingkrak😀

Kenapa mesti buru-buru?

Posted: October 8, 2008 in just thoughts

Aku bener-bener nggak habis pikir, kenapa sih kebanyakan penumpang pesawat terbang langsung pada berdiri, berdesakan dan berjejalan ngantri untuk keluar dari pesawat pada saat pesawat baru bener2 berhenti?

Padahal, awak pesawat dan petugas bandara butuh waktu buat mbuka pintu pesawat, dilanjutkan dengan masang tangga atau garbarata – yang (paling enggak) butuh waktu antara 5-10 menit… Apa sih yang bikin para penumpang ini begitu terburu-buru sehingga gak sabar menunggu sekitar 5-10 menit lagi dengan duduk manis di kursi masing-masing sampe pintu dan tangga pesawat sudah bener-bener siap untuk dilewati?

Waktu kecil, cita2ku pengen jadi pramugari. Pokoknya, di mataku profesi pramugari itu cool banget. Kenapa enggak? Nama profesinya aja udah terdengar keren “pra-mu-ga-ri”. Secara “image” pun, seorang pramugari terasosiasi dengan cantik, anggun, ramah, feminin, dan bisa keliling dunia. Menurutku, profesi pramugari itu kayak impian punya kehidupan kayak barbie, every girl’s obsession…

Tapi apa daya, begitu beranjak dewasa, ternyata cita-cita masa kecilku itu terhempas begitu saja hanya karena 1 hal yang harus dimiliki oleh seorang pramugari: “Tinggi badan minimum 165cm”. Ohmigod,persyaratan yang diskriminatif sekali… Sementara pertumbuhan ketinggian badanku terhenti di 155cm… Bukan, 152cm… Ehm, ok, 150cm😀.

Lama-lama, impian masa kecilku itu terpendam karena aku bergelut di bidang engineering.Pada suatu kesempatan, aku harus pergi naek pesawat terbang. Meskipun impian itu udah lama terpendam, waktu di bandara ngeliat mbak-mbak pramugari bersliweran bak peragawati, tetep bikin aku iri.Tapi, pada akhirnya aku bener-bener bisa mengikhlaskan impian masa kecilku itu tetap menjadi impian.Kenapa?

Karena syarat tinggi badan minimum itu bukan syarat yang omong kosong belaka
bukan pula syarat yang dibuat-buat untuk mendukung seleksi alam
tapi…
memang butuh orang-orang dengan tinggi minimum 165 cm untuk bisa menutup kabin di atas tempat duduk penumpang tanpa susah payah berjinjit seperti yang dilakukan oleh orang dengan tinggi 150cm…

Follow your heart

Posted: June 15, 2008 in a little of me

Menurutku, sebuah hubungan harus balance, dan membuat kedua belah pihak bahagia. Seandainya salah satu ngrasa kurang nyaman, kurang bahagia, bahkan tertekan, harus ada improvement dalam hubungan itu.
Ada pasangan yang salah satunya terlalu dominan. Dia pengen semua yg diinginkannya dipenuhi sama pasangannya. Kalau enggak, meskipun hanya sesuatu yg simpel seperti kelamaan bales sms, dia bisa marah besar!
Ada juga pasangan yang salah satunya terlalu posesif sehingga membatasi ruang gerak pasangannya.
Ada lagi, pasangan yang salah satunya tidak bisa mencintai sebesar cinta pasangannya.
Selalu ada pilihan, bertahan atau melepaskan. Butuh kekuatan yang luar biasa untuk bertahan, apalagi disaat kita merasa have to survive for the greater good. Tapi, melepaskan juga tidak mudah! Susah untuk melepas bagian dari diri kita yg nantinya juga ikut hilang, juga ada himpitan rasa bersalah saat kita melepaskannya.
But, whatever your choice is, you have to make sure that it comes from your heart.

Posting dari hengpon

Posted: April 20, 2008 in a little of me

Hmm, ternyata bisa juga yah posting WP pake opera di hape nokieu…
Jadi tambah cinta sama hapeku ini😀 . Dulu beli ini buat melampiaskan kebutuhan memotret diri sendiri😀 , tapi ternyata bisa buat donlot imel, yman, browsing, ngeblog(yg baru aku sadari :p ), waa… Tapi kok ya baru tau sekarang… *masi tetep aja katro😀 *

Ternyata jangan-jangan…

Posted: April 18, 2008 in worklife

Di kantor ada istilah di-Duri-kan. Itu berarti orang yang ketiban rejeki harus menempuh business trip di daerah Duri, Riau yang notabene jauh dari keramaian dunia😀 . Menurut cerita yang dikisahkan oleh korban pen-Duri-an, satuan waktu yang berjalan disana jauh lebih lambat dari satuan waktu yang berjalan di Jakarta (jadi inget teori relativitas :p ), belum lagi masalah mobilitas yang bener-bener terbatas karena hanya bergantung pada tebengan yang terbatas pula, temen-temen yang jauh, sama satu lagi masalah krusial: makanan. Kabarnya, Duri dimonopoli oleh franchise warung masakan padang, dimana saja dan kapan saja, kalo laper, pilihannya masakan padang😀 . Buat korban yang lidahnya asli Jawa, betapa menyiksanya harus makan nasi padang 3x sehari selama batas waktu business trip (yang kebanyakan sering diperpanjang)😀 . Kesimpulannya: di-Duri-kan hampir sama dengan di-asing-kan😀 .

Ternyata, ini gak cuma berlaku buat kami. Kemarin siang, di dalem lift ada 2 orang ekspatriat yang lagi seru ngobrol. Secara itu di dalem elevator gitu ya, mereka ngobrol berdua, yang denger orang sekampung😀 . Yang satu cerita kalo dia barusan dipindah ke Indonesia, dan ternyata si ekspat satunya pamer kalo summer ini dia mau ditransfer ke Dallas… Si ekspat yang baru dipindah ke Indo langsung komen “Waaa, enak banget dong dibalikin ke US” – yah, kurang lebih translate-annya gitu lah😀 . Brarti… Kalo di analogikan sama istilah kami yang di-Durikan, jangan-jangan mereka lagi di-Indonesia-kan😀

Doain Ya

Posted: April 15, 2008 in a little of me

Obrolan sama seorang temen beberapa hari yang lalu…

Antie : Wah, kapan nikahnya nih Non?
Aristia : Hmm… Doain aja ya…
Antie : Waaa, hebat! Dah nemu calonnya ya? *secara aku dan dia agak kurang beruntung urusan percintaan, xixixi*
Aristia : Hehe… *blm mau jawab*
Antie : Wah dah nemu calon nih Bu? *Tanya lagi, masi terkagum-kagum*
Aristia : Hehehe, doain aja segera ketemu calonnya…
Antie : OoooOOooOOoo… *manggutmanggut*

Yah, emang bener, jawaban paling diplomatis untuk pertanyaan sejenis adalah “doain aja“…😀. Makasih buat pencerahannya ya Aristia🙂